SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI

Minggu, 13 Februari 2011

Detik-detik Kelahiran Gerakan Pramuka

Kamis, 9 Maret 1961, pukul 22.00 Wib.
Ir. Soekarno, Presiden RI Mandataris MPRS menyampaikan pidato dihadapan para tokoh dan pemimpin Pandu yang mewakili organisasi kepanduan yang ada di Indonesia.
Pidato tersebut mengandung pokok-pokok :
  1. Kepanduan yang ada harus diperbarui dan disesuaikan dengan pertumbuhan bangsa dan harapan masyarakat Indonesia.
  2. Untuk menyesuaikan itu metode dan aktivitas pendidikan harus diganti juga
  3. Seluruh organisasi kepanduan yang ada, dilebur menjadi satu organisasi yang disebut Pramuka.
  4. Untuk melaksanakan perintah tersebut, dibentuk suatu panitia terdiri dari : 1) Sri Sultan Hamengkubuwono IX, 2) Menteri P dan K, Dr.Prijono, 3) Menteri Pertanian, dan 4) Dr.A.Ajis Saleh, Menteri Transkopemada, Achmadi
Pada tanggal 5 April 1961, keluarlah Keputusan Presiden RI No. 121 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota panitia adalah yang disebut pada pidato tanggal 9 Maret 1961 dengan ditambah Menteri Kesejahteraan Sosial, Muljadi Djojomartono.

Bapak Pramuka

Siapakah Beliau?
Sri Sultan Hamengkubuwono IX ( Sompilan Ngasem, Yogyakarta, 12 April 1912 - Washington, DC, AS, 1 Oktober 1988 ) adalah seorang Raja Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau juga Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973-1978. Beliau juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1961 - 1974).
Biografi
Lahir di Yogyakarta dengan nama GRM Dorojatun pada 12 April 1912, HamengkubuwonoIX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Diumur 4 tahun Hamengkubuwono IX tinggal pisah dari keluarganya. Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau berkuliah di Universiteit Leiden, Belanda (”SultanHenkie”).
Hamengkubuwono IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan HamengkubuwonoSenopati Ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panotogomo Kholifatulloh Ingkang Kaping Songo”. Beliau merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat “Istimewa”. Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin.

Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.
Minggu malam pada 1 Oktober 1988 ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri.

Sesepuh DKR Gondangrejo

Seiring berjalannya waktu, kami DKR Gondangrejo telah menunjukkan jati diri kami lagi. Dalam kepengurusan ini, kami mempunyai banyak program yang harus kami selesaikan dan laksanakan. Untuk kegiatan kami ini (Foto samping) adalah Lintas Medan Gondangrejo (LMG). Di mulai hari sabtu sore berakhir minggu sore dengan start dan finish di Kantor Kwaran Gondangrejo (Jl. Solo-Purwodadi Km.12 Gondangrejo, Karangganyar). Tempat peristirahat kami di Girijago desa Krician, Gondangrejo. Berbagai kegiatan telah kami laksanakan, dari Longmarch, game, sarasehan, dsb. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan DKR Gondangrejo kepada masyarakat luas pada umumnya dan masyarakat gondangrejo pada khususnya, serta mengenalkan daerah-daerah gondangrejo yang jarah ditemui dan dibicarakan sama masyarakat.

RENTANG MASA

 Bab 1-Kisah Pertama (Tiba-tiba merasa, "Rindu Kamu Mas". Lirihku dalam hati). “Kenapa masih di sini? apa kamu tidak d... Baca sel...